Anetha-adjah.blogspot.com

Anetha

ANT NETHA ADJAH,.,.,.,. ANETHA ADJAH

Minggu, 22 Januari 2012

Pria Lebih Mudah Mati Saat Terkena Penyakit

Pria Lebih Mudah Mati Saat Terkena Penyakit

(Foto: thinkstock)Jakarta, Pria datang ke dokter ketika penyakitnya sudah sangat serius sehingga sering berakhir dengan tingkat kematian yang lebih tinggi dibanding perempuan. Sedangkan perempuan lebih peka terhadap perubahan tubuhnya sehingga dokter bisa mendeteksi lebih dini penyakitnya dan menekan angka kematian.

"Pria cenderung lebih rentan terhadap penyakit yang berkaitan dengan usia. Begitu terserang penyakit, pria lebih mudah mati daripada wanita. Di sisi lain, tampaknya wanita lebih mampu menangani penyakit, sehingga cenderung memiliki tingkat kesehatan yang lebih tinggi daripada pria," kata Dr. Thomas Perls seperti dilansir FoxNews, Minggu (22/1/2012).

Pria kurang menyadari gejala-gejala gangguan kesehatan dan lebih malas melakukan pemeriksaan ke dokter. Pria sangat khawatir jika dirinya dianggap tidak sehat akan membuatnya terlihat begitu lemah.

Pria terlalu hitam putih menilai masalah kesehatannya, sakit sekali atau tidak. Sakit menurut pria adalah jika harus ke meja operasi.

Padahal idealnya, jika seseorang punya kekhawatiran tentang kesehatannya maka lebih baik segera memeriksakan diri. Menunda melakukan pemeriksaan bisa membuat penyakit makin sulit diobati.

10 penyakit yang paling banyak membunuh pria:
1. Penyakit jantung
2. Kanker
3. Luka-luka atau kecelakaan
4. Stroke (cerebrovascular kecelakaan, CVA)
5. PPOK (penyakit paru obstruktif kronik)
6. Diabetes
7. Influenza dan Pneumonia
8. Bunuh diri
9. Penyakit ginjal
10. Penyakit Alzheimer

Selain menjauhkan diri dari perilaku hidup tidak sehat seperti kurang tidur, merokok, minum alkohol, perilaku antisosial dan penggunaan obat-obatan, ada baiknya pria juga rutin melakukan cek kesehatan dasar seperti:

1. Gula darah

Kadar gula darah dikatakan normal jika angkanya 70-99 mg/dL, dengan catatan diukur setelah puasa atau tidak makan selama 8 jam. Kadar gula darah yang diukur 2 jam setelah makan dikatakan normal jika berkisar antara 70-145 mg/dL, sedangkan jika mengabaikan jadwal makan maka rentang normalnya adalah 70-125 mg/dL.

2. Kolesterol

Ada 3 komponen lemak darah yang diperiksa yakni Low Density Cholesterol (LDL) atau lemak jahat, High Density Cholesterol (HDL) atau kolesterol baik dan trigliserida.

Komposisi lemak dalam darah yang ideal adalah sebagai berikut:

Lemak total kurang dari 200 mg/dL
LDL (kolesterol jahat) di bawah 100 mg/dL
HDL (kolesterol baik) di atas 60 mg/dL
Trigliserida di bawah 150 mg/dL

3. Tekanan darah

Penafsiran hasil pemeriksaan tekanan darah adalah sebagai berikut.

120/80 artinya normal
120/80 - 139/89 artinya prahipertensi
140/90 - 159/99 artinya hipertensi stadium 1
160/100 ke atas artinya hipertensi stadium 2

4. Hemoglobin
Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) atau zat merah darah dilakukan untuk mengetahui kondisi anemia (kurang darah) maupun polisistemia (kelebihan sel darah merah). Biasanya, pemeriksaan Hb sudah menjadi satu paket dalam pemeriksaan darah lengkap.

Kadar Hb yang normal pada berbagai usia adalah sebagai berikut.
Laki-laki dewasa: 14-18 g/dL
Perempuan dewasa: 12-16 g/dL
Laki-laki di atas usia paruh baya: 12,4-16,9 g/dL
Perempuan di atas usia paruh baya: 11,7-13,8 g/dL

5. Berat badan
Pengukuran berat badan sangat mudah dilakukan, karena hanya membutuhkan alat timbangan. Yang agak rumit adalah menghitung perbandingannya dengan tinggi badan untuk mendapatkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan rumus sebagai berikut: IMT = (berat badan / tinggi badan dikuadratkan)

Angka IMT yang didapatkan bisa diartikan sebagai berikut:

IMT 18,4 ke bawah artinya underweight atau terlalu kurus
IMT 18,5-24,9 artinya berat badan ideal
IMT 25-29,9 artinya overweight atau kelebihan berat badan tetapi belum obesitas
IMT 30-39,9 artinya obesitas
IMT 40 ke atas artinya obesitas parah dan berisiko tinggi terkena diabetes

6. Lemak tubuh

Kadar lemak tubuh yang dikategorikan normal pada laki-laki adalah sekitar 15 persen, sedangkan pada perempuan angkanya 25 persen. Dibandingkan yang ada di bawah kulit (lemak subcutan), kelebihan lemak di organ dalam (lemak visceral) umumnya lebih berhubungan dengan risiko serangan jantung, sindrom metabolik dan diabetes.

7. Tes urine
Kondisi urine bisa memberi gambaran tentang kondisi ginjal dan saluran kemih. Sedikitnya ada 100 pemeriksaan yang bisa dilakukan dengan urine, namun yang paling sering digunakan adalah kadar keasaman (pH), kandungan protein dan mikrobiologi.

Normalnya pH urine berkisar antara 4,6-8,0 dan tidak mengandung mikroba maupun bercak darah dan berbagai macam protein. Jika ada kelainan pada hasil pemeriksaan lab, maka kemungkinan besar ada infeksi di saluran kemih atau reaksi radang di ginjal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar